Tulisan kedip

Tampilkan postingan dengan label Kewaspadaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kewaspadaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2009

Hidup Manusia Penuh dengan Perjuangan

Sebagaimana kita ketahui sebagai manusia bahwa hidup itu penuh dengan perjuangan, baik perjuangan untuk mencapai kehidupan dunia dan akhirat. Untuk mencapai kebahagian itu tidaklah mudah teradang banyak duri yang harus dilalui, hal ini sebagaimana Allah berfirman :
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي كَبَدٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (al-Balad : 4)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia itu disibukan dengan berbagai macam urusan yang sangat memayahkan dan memberatkan. Namun dari apa yang diperoleh dari hasil kesibukan dan jerih payahnya itu akan diperoleh hasil yang memadai untuk dunia dan akhiratnya.

Temani Aku ke Surga

Mari lewati lorong waktu, menyusuri jalan-jalan dunia yang penuh tipu daya, dengan kebersamaan. Tapaki perguliran pagi, siang, petang dan malam, yang penuh liku, dengan persahabatan dalam keimanan. Di dunia ini, kita harus saling berpegangan tangan. Harus. Kita tak mungkin selamat mengarungi bahtera kehidupan yang sangat luas dengan ancaman badai fitnah ini, seorang diri. Kita tak dapat lolos dari ancaman fitnahnya dengan hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Karena, kita diciptakan sebagai makhluk yang penuh kelemahan dan mudah terpedaya. “Dan diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah.” (Qs. An Nisa:28)

Ibadah dan Kedisiplinan

Setiap Rabu, 10-12 siang, saya mengajar pada International Brotherhood of Teamsters (Retiree Division) tentang Middle East: an Overview of Traditions. Awalnya saya menyangka bahwa murid-murid senior tersebut, berumur kira-kira 65 - 80-an tahun, ingin mengetahui adat atau tradisi orang-orang di Timur Tengah. Ternyata ketika saya memulai diskusi, semuanya ingin belajar Islam yang sesungguhnya. Bahkan seorang yahudi mengatakan: "I just wanted to share with you, Muslims, that we need to come back to our history. Muslims are nice guys, kind people, they protected us in Spain, and during the hardship we fled to Turkey and some North African countries the Muslim rulers of the Ottoman Caliphs received us will full protection".

Meraih Ketenangan Jiwa

Betapa mahalnya harga ketenangan jiwa. Banyak yang mengorbankan apa saja untuk meraihnya. Namun, tak sedikit yang salah arah. Lihat saja orang rela menghabiskan berjam-jam nongkrong di tempat hiburan sembari minum minuman keras. Tak sedikit yang menghabiskan uang jutaan untuk mengkonsumsi pil-pil penenang. Sementara, ketenangan yang diproleh cuma sesaat. Itu pun sifatnya semu. Alih-alih ingin meraih ketenangan jiwa yang ada malah kehancuran.

Berbagai persoalan sehari-hari bisa menjadi pemicu stress. Apalagi di kehidupan yang serba cepat seperti sekarang ini. Banyak hal yang membuat seseorang merasa tertekan, kecewa dan tegang. Masalahnya tinggal pada intensitas. Bila stress itu terjadi terus menerus akan menjadi distress yang berujung pada depresi. Pada tingkat ini penderita kerap melakukan tindakan di luar akal sehat.

Biarlah Orang Bicara tentang Kita

Amal-amal kita, tidak hanya dicatat para malaikat. Karena cerita-cerita dan kesan yang kita tinggalkan di dunia setelah mati, serupa cermin nilai dari prilaku kita selama hidup. Alangkah indahnya, sebuah kematian yang bisa meninggalkan cerita-cerita baik pada keluarga. Alangkah bahagianya, sebuah kematian yang mengesankan jejak hidup yang menjadi pelajaran kebaikan bagi mereka yang masih menjalani hidup. Alangkah gembiranya, bila kematian kita menyisakan kesan dari amal-amal saleh yang bermanfaat untuk orang lain.

Sedikit tapi Kontinu

Tak ada kebahagiaan yang diperoleh secara mudah. Bahkan tingkat sulit dan mudahnya proses mencapai kebahagiaan, akan menjadi bagian penting yang menentukan kadar kebahagiaan yang kita peroleh. Ingat, semua manfaat takkan bisa datang kecuali dengan rasa lelah. Kenikmatan itu bahkan datang sesuai kadar kelelahan untuk memperolehnya. Begitupun kebahagiaan di akirat harus ditempuh dengan kelelahan dalam beramal dan kesulitan untuk meraihnya. Allah SWT menyebutkan bahwa untuk masuk surga sekalipun orang-orang yang beriman harus melalui proses ujian dan penyaringan. Seperti dijelaskan dalam surat Al Ankabut 1-4.

Potensi vs Impotensi

Bisakah Anda jelaskan apa yang jadi impian Anda lima tahun mendatang? Inikah jawaban Anda, “Pokoknya bagaimana nantilah, yang penting kita lakukan saja apa yang ada di depan kita saat ini.” Jika ya, artinya Anda orang tipe bagaimana nanti bukan nanti bagaimana. Lho, apa bedanya?

Perbedaannya tipis sekali. Yang pertama menyiratkan makna bahwa seolah-olah perencanaan hidup sukses tidak sepenting dibanding pencapaian sukses itu sendiri. Sedangkan yang kedua mengatakan, merencanakan hidup sukses merupakan sebagian jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sukses hidup.

Dan, setiap orang punya potensi yang sama untuk sukses. Anehnya, mengapa ada yang berhasil dan yang lain gagal? Jawabannya ternyata sederhana: orang itu gagal karena potensinya masih tersembunyi atau belum muncul ke permukaan. Bisa juga karena belum memfungsikannya secara optimal. Jadi, sumber kegagalan orang itu adalah impotensi. Pemberian rangsangan adalah cara jitu agar yang bersangkutan dapat berpikir dan bertindak lebih powerful.

Apa Potensi Saya?

"APA sih potensi saya?” Pasti pertanyaan ini pernah kita lontarkan. Tapi tahukah Anda ada kalanya pertanyaan itu menyesatkan diri Anda sendiri?

Pertanyaan semacam itu biasanya menghantui para remaja. Maklum, itu usia pencarian identitas. Tapi, tak jarang lho ditanyakan juga oleh orang dewasa. Itu bukan berarti mereka kehilangan identitas, namun biasanya terjadi saat harus memilih ulang pekerjaan yang akan ia geluti. Misalnya, pada sarjana yang baru lulus, pekerja yang baru kena PHK, atau pada orang yang selalu gagal berwirausaha.

Situasi seperti itu kerap memaksa orang untuk menilai ulang dirinya. Jadi, pertanyaan seperti di atas sah-sah saja dilontarkan. Harapannya tentu saja kita mendapat jawaban yang tepat. Dengan begitu keputusan kita dalam memilih dunia kerja yang akan kita geluti bisa pas.

Meningkatkan Percaya Diri

Dari data penelitian, ditemukan banyak faktor yang menjadikan kendala seseorang enggan untuk menjadi penyeru kebaikan. Antara lain, kurang percaya diri, kemudian disusul tidak adanya skill. Kalau kita runut, keduanya mempunyai korelasi yang sangat erat. Sebenarnya akar masalah orang yang tidak percaya diri terletak pada skill (keterampilan). Dan, skill utama bagi seorang penyeru kebaikan terletak pada kemampuan penguasaan materi, pemahaman terhadap nilai-nilai yang disampaikan, serta penguasaan skill penyampaian.

Untuk menumbuhkan ketiga hal tersebut perlu sebuah usaha pembiasaan. Dan untuk menjadikan hal itu sebagai sebuah kebiasaan dalam diri seseorang secara permanen, maka perlu ditanamkan beberapa faktor: Pertama, paham. Tanpa pemahaman yang utuh, orang tidak akan dapat bekerja dengan ikhlas, lemah produktiftas, dan tidak akan tahan lama. Kedua, memiliki skill. Orang yang tidak memilki skill biasanya akan bekerja dengan cemas dan minder. Ketiga, kemauan. Dengan kemauan, kita dapat beramal secara konsisten dalam rentang waktu yang lebih lama.

Bergeraklah

Di balik segala kemajuan, kesuksesan, dan kejayaan selalu tersimpan banyak rahasia. Salah satu rahasia itu adalah peran orang-orang yang tak henti bergerak, menyambung satu kerja dengan kerja lainnya. Banyak hal penting layak dicatat, sejauh mana dinamika dan gerak hidup membuahkan tonggak-tonggak kebesaran, dalam bermacam bidang, Berikut sebagiannya.

1. Bergerak akan melahirkan perubahan.

Titik pertama setiap kesuksesan dimulai dari perubahaan. Artinya seseorang harus mau berubah, dari “apa adanya menjadi ada apa-apanya”, Dan, titik awal perubahan itu ada pada kehendak dan kemauan untuk bergerak.

Persiapan Menghadapi Kegagalan

Kegagalan memang resiko dari sebuah usaha dan kekecewaan adalah resiko dari keinginan. Kegagalan dan kekecewaan itu jelas pahit. Malangnya lagi kemungkinan terjadinya kegagalan atau keberhasilan adalah sama yaitu 50 = 50. Jadi setiap kita pasti pernah mengalami kegagalan dan kekecewaan ini dan dimasa yang akan datang kenyataan ini akan berulang lagi. Lalu siapkah kita menghadapinya dan bagaimana caranya agar kegagalan itu tak membawa keperihan yang berkepanjangan?

Sebenarnya ada tiga tipe penyebab kegagalan. Dua dari ketiga tipe ini adalah akibat kesalahan kita sendiri, yaitu kelemahan perencanaan dan rendahnya komitmen pelaksanaan. Kemudian yang ketiga adalah penyebab yang di luar dugaan.

Kegagalan

Jangan pernah menyangka bahwa seorang pahlawan selalu meraih prestasi-prestasinya dengan mulus, atau bahkan tidak pernah mengenal kegagalan. Kesulitan-kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam perjalanan menuju kepahlawanan. Dan karena itu, peluang kegagalan sama besarnya dengan peluang keberhasilan. "Kalau bukan karena kesulitan, maka semua orang akan jadi pahlawan", kata seorang penyair Arab, Al-Mutanabbi.

Membebaskan Konstantinopel bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pemuda berusia 23 tahun setangguh Muhammad Al-Fatih Murad. Pembebasan pusat kekuasaan Imperium Romawi itu, kata orientalis Hamilton Gibb, adalah mimpi delapan abad dari kaum Muslimin. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu di sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Muhammad Al-Fatih Murad juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan kepadanya.