Tulisan kedip

Rabu, 13 Juni 2012

Permendiknas tentang Pembinaan Kesiswaan

Tujuan pembinaan kesiswaan :
a. Mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas;
b. Memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif dan bertentangan dengan tujuan pendidikan;
c. Mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai bakat dan minat;
d. Menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia,demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat madani(civil society).
DOWNLOAD

Minggu, 30 Oktober 2011

AKHLAK TERPUJI


STANDAR KOMPETENSI
Mebiasakan prilaku terpuji; berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan menerima tamu dalam kehidupan sehari-hari

KOMPETENSI DASAR
• Menjelaskan pengertian dan pentingnya akhlak berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan menerim a tamu.
• Mengidentifikasi bentuk akhlak berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan menerima tamu.
• Menunjukkan nilai-nilai positif dari akhlak berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan menerima tamu dalam fenomena kehidupan
• Membiasakan akhlak berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan menerima tamu.

Agama Islam adalah agama yang sempurna, mengatur kehidupan manusia dalam segala aspeknya. Ajaran islam tidak saja hanya mengatur hubungan secara vertikal manusia (hablum minallah) , tetapi juga hubungan secara horizontal dengan sesamanya (hablum minannas). Karena itulah Islam sebagai ajaran yang sempurna, berpakaian, bertamu, makan, minum, tidur, sampai bagaimana cara mengabdi dan menyembah kepada sang Khalik, Allah Tuhan Yang Maha Esa. Sejak awal agama Islam telah menanamkan kesadaran akan kewajiban pmeluknya untuk menjaga sopan santun (adab) dalam berbagai aspek kehidupan. Karena sopan santun (akhlak) menunjukkan karakteristik kualitas kepribadian seorang muslim. Bahkan Nabi Muhammad saw mengukur kesempurnaan iman seseorang dengan orang yang berbudi pekerti yang baik (Akhlak Karimah) untuk memberikan gambaran lebih rinci berikut akan dibahas adab berpakaian, behias, dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu.

Sabtu, 29 Oktober 2011

BAB IV
PEMBAGIAN HADITS BERDASARKAN KUALITAS SANADNYA


Berita (khabar) yang dapat diterima bila ditinjau dari sisi perbedaan tingkatannya terbagi kepada dua klasifikasi pokok, yaitu Shahih dan Hasan. Masing-masing dari keduanya terbagi kepada dua klasifikasi lagi, yaitu Li Dzatihi dan Li Ghairihi. Dengan demikian, klasifikasi berita yang diterima ini menjadi 4 bagian, yaitu:
·       Shahih Li Dzatihi (Shahih secara independen)
·       Hasan Li Dzatihi (Hasan secara independen)
·       Shahih Li Ghairihi (Shahih karena yang lainnya/riwayat pendukung)
·       Hasan Li Ghairihi (Hasan karena yang lainnya/riwayat pendukung)
Dalam kajian kali ini, kita akan membahas seputar bagian pertama di atas, yaitu Shahih Li Dzatihi (Shahih secara independen)

Senin, 24 Oktober 2011

HADITS HASAN

Secara bahasa (etimologi) Kata Hasan (حسن) merupakan Shifah Musyabbahah dari kata al-Husn (اْلحُسْنُ) yang bermakna al-Jamâl (الجمال): kecantikan, keindahan.b. Secara Istilah (teriminologi)

Sedangkan secara istilah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama hadits mengingat pretensinya berada di tengah-tengah antara Shahîh dan Dla’îf. Juga, dikarenakan sebagian mereka ada yang hanya mendefinisikan salah satu dari dua bagiannya saja.

Pengertian Hadits Hasan menurut para ulama hadits dan definisi terpilih:
  1. Definisi al-Khaththâby : yaitu, “setiap hadits yang diketahui jalur keluarnya, dikenal para periwayatnya, ia merupakan rotasi kebanyakan hadits dan dipakai oleh kebanyakan para ulama dan mayoritas ulama fiqih.” (Ma’âlim as-Sunan:I/11)

HADIS SHAHIH


Hadits Shahih
Berita (khabar) yang dapat diterima bila ditinjau dari sisi perbedaan tingkatannya terbagi kepada dua klasifikasi pokok, yaitu Shahîh dan Hasan. Masing-masing dari keduanya terbagi kepada dua klasifikasi lagi, yaitu Li Dzâtihi dan Li Ghairihi. Dengan demikian, klasifikasi berita yang diterima ini menjadi 4 bagian, yaitu:
  • Shahîh Li Dzâtihi (Shahih secara independen)
  • Hasan Li Dzâtihi (Hasan secara independen)
  • Shahîh Li Ghairihi (Shahih karena yang lainnya/riwayat pendukung)
  • Hasan Li Ghairihi (Hasan karena yang lainnya/riwayat pendukung)
Dalam kajian kali ini, kita akan membahas seputar bagian pertama di atas, yaitu Shahîh Li Dzâtihi (Shahih secara independen)

Rabu, 05 Oktober 2011

BAB III
PEMBAGIAN HADIS BERDASARKAN JUMLAH PERAWINYA


A.   Hadis Mutawatir  
1.   Pengertian Hadis Mutawatir
Secara bahasa, mutawatir adalah isim fa’il dari at-tawatur yang artinya berurutan.
Sedangkan secara istilah adalah

المتواتر هو ما رواه جمع عن جمع بلا حصر بحيث يبلغون حدا تحيل العادة تواطؤهم على الكذب بشرط ان يكون مستند انتهائهم الحس او السماع
Hadis Mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi dari sejumlah besar rawi, tanpa batas yang jumlah mereka itu menurut adat kebiasaan mustahil mereka bersepakat dusta, dengan syarat hadis tersebut hasil dari tangkapan penglihatan atau pendengaran mereka

Senin, 26 September 2011

BAB II
TAHAMMUL WAL ADA’UL HADIS



A.   Tahammulul Hadis             
Para ulama hadis telah bersusah payah mengusahakan adanya ilmu hadis, lalu mereka membikin beberapa kaidah (batasan-batasan) dan berbagai syarat dengan berbagai bentuk yang cermat dan banyak sekali. Mereka telah mengidentifikasin antara 'tahammul hadis' selanjutnya mereka menjadikannya beberapa tingkatan, di mana bagian satu dengan yang lain tidaklah sama artinya ada yang lebih kuat, hal itu merupakan penguat dari mereka untuk memelihara hadis Rasulullah SAW dan memindahkan dengan baik dari seseorang kepada orang lain. Di samping itu mereka yakin bahwa cara yang seperi ini adalah cara yang paling selamat dan cara yang paling cermat.